Sandor diadakan kalau ada acara penting seperti pernikahan atau acara bubuan atau disebut dengan acara
kepala desa atau nama lainnya kelebun
Sandor dimulai dari pukul 2100 sampai dengan jam 0400 wib pagi sandor identik dengan kesalahan orang madura yang mengandung maksiat diantara judi dan
Minuman keras dan menggangu
masyarakat sekitar di waktu malam
Sandor adalah Sebuah hiburan yang sekarang udah banyak orang yang meninggalkan hiburan daerah yang kuno
Yang pada zaman modern ini udah banyak hiburan yang menarik dan yang menghibur tapi kita tidak boleh melupakan hiburan khas madura itu
Bagaimana pun itu sandor adalah hiburan daerah yang harus kita lestarikan
Sebagai anak madura atau kacong cabbheng kita harus mengetahui sandor jangan sampai kita tidak Tahu tentang sandor
maka dari itu saya cuma mengingatkan pada saudara saudari kacong cabbhing
Harus tau tradisi apa dan hiburan apa yang ada di madura karna itu sejarah nenek moyang kita
Waktu itu hampir menunjukkan tengah malam, kebetulan saja saya baru pulang dari kampus. Di sela perjalanan pulang kerumah, ketika akan sampai ada sebuah keramaian di pinggir jalan. Secara tiba–tiba saya berhenti dan langsung bertanya pada salah seorang di dekat situ. Kebetulan orang pertama yang saya tanya adalah tukang parkir yang sedang mengatur jalan. Memang saya belum sempat tahu namanya, namun dari sebuah percakapan awal dengan beliau, saya baru tahu bahwa ada sebuah pertunjukkan kesenian tradisional. Bapak tersebut bilang kalau sedang ada pertunjukkan kesenian Sandur, sangat asing bagi saya. Saya pernah mendengar namun rasa keingintahuan saya bertambah karena belum pernah menonton pertunjukkan tersebut. Lekas saya pulang untuk ganti baju dan segera kembali ketempat tersebut. Tidak butuh waktu yang cukup lama untuk datang kembali ke tempat tersebut. Maklum jarak antara rumah saya ke tempat tersebut cuma sekitar 1 km.
Tiga puluh menit kemudian, tepat pukul 01.00 wib. Saya sudah kembali lagi ke lokasi tadi, yaitu Kampung Kedung Mangu, Surabaya. Yang membuat saya heran pertama kali adalah keberadaan beberapa mobil yang parkir di situ ber-plat nomor di luar Surabaya. Kebanyakan mobil yang parkir rata–rata berasal dari Madura, namun ada pula yang berasal dari kota tetangga lainya seperti Gresik, Lamongan, Babat, Jombang dan adapula yang ber-plat nomor ‘B’ atau Jakarta. Setelah saya sempat ngobrol bersama tukang parkir, ternyata memang ada sebuah pertunjukkan kesenian tradisional Sandur. Menurutnya, kesenian Sandur adalah kesenian tradisional yang berasal dari Madura. Namun ketika saya cari info lewat internet ternyata Sandur merupakan sebuah kesenian tradisional yang berasal dari Bojonegoro yang biasa diadakan di sebuah
tempat terbuka seperti lapangan, seusai masa panen di desa. Menurut kutipan yang saya dapat, menjelaskan bahwa Kesenian Sandur merupakan kesenian yang terminologinya diambil dari anonim sandur: isane tandur (sa’wise tandur) yang berarti selesai bercocok tanam. Dengan kata lain bahwa kesenian Sandur adalah salah satu bentuk ekspresi seni masyarakat agraris yang dilakukan selesai bercocok tanam. Di samping itu cerita yang ada dalam Sandur, berbicara tentang gambaran kehidupan petani dalam menjalankan aktifitas agrarisnya. Membicarakan kesenian tradisional kerakyatan yang berupa kesenian Sandur, seolah
memasuki lorong gelap sejarah kesenian yang berbasis sinkretisme ini. Kesenian yang terminologinya lahir di tengah masyarakat agraris ini hampir punah keberadaan dan eksistensinya. Sehingga perangkat dan materi pertunjukannya banyak menyimbolkan idiom-idiom pertanian. Misalnya dalam dialognya, tema cerita yang diangkat tentang sawah, ladang dan kehidupan para petani yang ada di pedesaan
Namun dari hal ini saya tidak mempersoalkan dari mana asal kesenian ini. Yang menjadi ketertarikan saya terhadap kesenian ini adalah bagaimana metode yang mereka terapkan dalam menjaga kesenian ini hingga bertahan hingga sekarang.
Waktu itu hampir menunjukkan tengah malam, kebetulan saja saya baru pulang dari kampus. Di sela perjalanan pulang kerumah, ketika akan sampai ada sebuah keramaian di pinggir jalan. Secara tiba–tiba saya berhenti dan langsung bertanya pada salah seorang di dekat situ. Kebetulan orang pertama yang saya tanya adalah tukang parkir yang sedang mengatur jalan. Memang saya belum sempat tahu namanya, namun dari sebuah percakapan awal dengan beliau, saya baru tahu bahwa ada sebuah pertunjukkan kesenian tradisional. Bapak tersebut bilang kalau sedang ada pertunjukkan kesenian Sandur, sangat asing bagi saya. Saya pernah mendengar namun rasa keingintahuan saya bertambah karena belum pernah menonton pertunjukkan tersebut. Lekas saya pulang untuk ganti baju dan segera kembali ketempat tersebut. Tidak butuh waktu yang cukup lama untuk datang kembali ke tempat tersebut. Maklum jarak antara rumah saya ke tempat tersebut cuma sekitar 1 km.

Keramaian parkiran mobil
Tiga puluh menit kemudian, tepat pukul 01.00 wib. Saya sudah kembali lagi ke lokasi tadi, yaitu Kampung Kedung Mangu, Surabaya. Yang membuat saya heran pertama kali adalah keberadaan beberapa mobil yang parkir di situ ber-plat nomor di luar Surabaya. Kebanyakan mobil yang parkir rata–rata berasal dari Madura, namun ada pula yang berasal dari kota tetangga lainya seperti Gresik, Lamongan, Babat, Jombang dan adapula yang ber-plat nomor ‘B’ atau Jakarta. Setelah saya sempat ngobrol bersama tukang parkir, ternyata memang ada sebuah pertunjukkan kesenian tradisional Sandur. Menurutnya, kesenian Sandur adalah kesenian tradisional yang berasal dari Madura. Namun ketika saya cari info lewat internet ternyata Sandur merupakan sebuah kesenian tradisional yang berasal dari Bojonegoro yang biasa diadakan di sebuah
tempat terbuka seperti lapangan, seusai masa panen di desa. Menurut kutipan yang saya dapat, menjelaskan bahwa Kesenian Sandur merupakan kesenian yang terminologinya diambil dari anonim sandur: isane tandur (sa’wise tandur) yang berarti selesai bercocok tanam. Dengan kata lain bahwa kesenian Sandur adalah salah satu bentuk ekspresi seni masyarakat agraris yang dilakukan selesai bercocok tanam. Di samping itu cerita yang ada dalam Sandur, berbicara tentang gambaran kehidupan petani dalam menjalankan aktifitas agrarisnya. Membicarakan kesenian tradisional kerakyatan yang berupa kesenian Sandur, seolah
memasuki lorong gelap sejarah kesenian yang berbasis sinkretisme ini. Kesenian yang terminologinya lahir di tengah masyarakat agraris ini hampir punah keberadaan dan eksistensinya. Sehingga perangkat dan materi pertunjukannya banyak menyimbolkan idiom-idiom pertanian. Misalnya dalam dialognya, tema cerita yang diangkat tentang sawah, ladang dan kehidupan para petani yang ada di pedesaan
Namun dari hal ini saya tidak mempersoalkan dari mana asal kesenian ini. Yang menjadi ketertarikan saya terhadap kesenian ini adalah bagaimana metode yang mereka terapkan dalam menjaga kesenian ini hingga bertahan hingga sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar