Namaku rohman aku adalah siswa man bangklalan . Aku memiliki seorang kakak
laki-laki bernama Dia 17tahun lebih tua dariku. Tapi hubunganku
dengannya tak seharmonis yang dibayangkan. Mungkin banyak yang berfikir
kita bisa kompak karena memiliki kesukaan yang sama. Tapi menurutku itu
adalah hal yang selama ini membuat hubungan kami tidak harmonis. Justru
karena itu aku sering ribut dengan Kak Adit.
Ini semua kadang membuatku tidak betah di rumah. Terlebih lagi ketika
Mama lebih membela Kak Adit. Alasannya berbagai macam. Telingaku rasanya
mau pecah dengar ocehan Mama. Menurutku Mama selalu tidak adil. Kalau
sudah begini Kak Adit merasa sangat bangga atas kemenangannya.
Seringkali Mama berusaha menasehati kami agar kami akur. Namun usahanya
selalu sia-sia.
Malam itu aku sedang berkonsentrasi mengerjakan tugas menggambar dan
dilanjutkan tugas Bahasa Indonesia. Terdengar ada yang mengetuk pintu
kamarku. Aku tak menghiraukannya.
“Woy, buka pintu dong,” kata seseorang di balik pintu yang tak lain adalah Kak Adit.
“Apaan sih Kak? Gak usah ganggu deh,” kataku dengan sedikit teriak.
“Yeh malah nyolot, disuruh makan tuh. Kita semua udah nunggu di ruang makan. Udah deh berantemnya nanti lagi,” kata Kak Adit.
“Nanti ajalah tanggung,” kataku.
Tanpa membalas kata-kataku Kak Adit meninggalkan kamarku dan menuju
ruang makan. Aku tak peduli, aku tetap melanjutkan tugasku. Menggoreskan
berbagai macam warna di atas buku gambar berukuran A4.
“Mana adikmu?” tanya Mama.
“Di kamarnya,” jawab Kak Adit santai.
“Kamu itu bagaimana sih? Mama kan nyuruh kamu manggil dia,” ucap Mama.
“Iya Adit tau, tapi dia gak mau keluar. Tanggung katanya,” jelas Kak Adit.
“Males giiilaaa… udah ah Ma aku makan duluan,” kata Kak Adit.
“Kalian itu gak bisa ya akur sehari aja?” Mama menghela nafas.
“Pokoknya kamu gak boleh makan duluan. Ya udah Mama yang ke kamar Andi,” tambah Mama.
Gambarku sudah selesai. Kini aku sedang mengerjakan tugas Bahasa
Indonesia. Sedikit lagi aku menyelesaikannya. Mama mengetuk pintu
kamarku dengan pelan. Disambung dengan suara Mama yang lembut dan penuh
kasih sayang.
“Sayang, ayo makan dulu,” ucap Mama lembut.
“Iya Ma, sebentar,” kataku.
“Ayo sayang, makanan sudah siap. Papa dan Kak Adit sudah menunggu,” kata Mama.
Aku membereskan semua buku pelajaranku, kebetulan memang tugas-tugasku
telah selesai. Aku membuka pintu kamarku. Mama tak bicara lagi, yang ku
lihat hanya lengkungan manis yang mengembang dari mulutnya.
Sesampainya di meja makan Papa dan Kak Adit sudah duduk manis menatap semua hidangan di atas meja makan.
“Huuu… kalau dipanggil sama Mama aja langsung nurut,” gerutu Kak Adit.
Aku tak membalasnya. Rasanya aku sudah bosan bertengkar dengannya.
Bertengkar dengan Kak Adit sudah menjadi rutinitasku di rumah ini. Dan
sudah menjadi hal lumrah di mata keluarga serta tetangga.
Makan malam telah selesai. Aku dan Kak Adit menonton TV. Kami berdua
duduk di sofa menunggu acara yang sama yaitu “Moto GP” sebuah acara
balap motor yang sangat aku tunggu-tunggu sejak seminggu yang lalu.
Acaranya sudah mulai. Kami fokus pada apa yang kami tonton. Tak sepatah
kata pun terucap dari mulut kami.
“Tumben akur,” ledek Mama.
“Biasa aja Ma,” kata Kak Adit ketus.
“Diem Ma, lagi seru nih,” kataku tanpa mengalihkan perhatianku dari layar kaca.
“Nah kalau gini kan enak, rumah terasa damai,” kata Mama.
Tak ada satu pun dari kami yang membalas perkataan Mama tadi. Karena pada dasarnya kami sedang fokus dan tak ingin diganggu.
“Oiya Di, ini udah jam 10 loh. Ayo tidur, besok kan sekolah,” tambah Mama.
“Yah Mama, ini kan baru jam 10. Lagian aku kan bukan anak kecil yang harus selalu diatur,” kataku kesal.
“Kalau aku disuruh tidur seharusnya Kak Adit juga dong Ma. Kak Adit juga kan besok sekolah,” tambahku.
“Tapi Kak Adit sudah besar. Kamu kan masih kecil, gak baik tidur malam-malam,” jelas Mama.
Ini dia yang paling aku gak suka. Aku selalu dibilang anak kecil. Selalu
dibedakan sama Kak Adit. Aku juga kan sudah besar. Lagian perbedaan
usiaku dengannya hanya 4 tahun. Apa salahnya jika aku tidur lewat dari
jam 10? Toh Kak Adit juga besok sekolah. Ini benar-benar gak adil.
“Ma, tolong jangan bilang kalau aku ini masih kecil, Mama itu gak adil.
Kenapa Kak Adit boleh sedangkan aku tidak?” aku semakin kesal.
“Bukan itu maksud Mama,” kata Mama.
“Mama itu selalu gak adil sama aku. Uang jajanku tak sama dengan Kak
Adit, aku gak boleh mengendarai motor sedangkan Kak Adit boleh.”
“Bukannya gak boleh tapi belum boleh.”
“Seandainya aku sudah boleh mengendarai motor pun Kak Adit pasti sudah
boleh mengendarai mobil, yang jelas aku dan Kak Adit takkan pernah sama
Ma,” kataku kesal sambil berlari masuk ke kamar. Tak lupa aku mengunci
pintu. Aku ingin sendiri. Aku ingin menenangkan diri.
“Eh lo gak boleh gitu ya. Gak sopan banget sih sama Mama,” teriak Kak Adit.
Aku tak mempedulikan ucapan Kak Adit. Aku benar-benar jengkel. Yang ada
di otakku hanyalah sebuah pertanyaan “kenapa aku tak pernah sama dengan
Kak Adit?”. Pertanyaan itu selalu terngiang dalam benakku. Rasanya
begitu sakit jika aku selalu memikirkan pertanyaan itu.
Pokoknya malam ini aku benar-benar jengkel. Mama terus saja membela Kak
Adit dan tidak mendengarkan omonganku. Aku sebel, Mama selalu menganggap
omonganku salah. Tak selamanya kan omongan anak kecil sepertiku itu
salah? Ada kalanya orang dewasa itu mendengarkan omongan orang yang
lebih kecil. Padahal apa yang aku katakan demi keadilan. Lebih tepatnya
keadilan dari Mama.
Mama mengetuk pintu kamarku. Membujukku agar aku mau membukakan pintu
untuknya. Dengan perasaan jengkel aku membuka pintu kamarku dan kembali
duduk di kasur. Mama menghampiriku.
“Di, kamu gak boleh punya fikiran seperti itu,” Mama membuka percakapan.
“Mama itu tidak pernah membedakan kalian,” tambahnya.
“Mama selalu berusaha untuk adil kepada kedua anak Mama,” tambahnya lagi karena aku masih saja diam.
“Selalu berusaha adil gimana? Nyatanya aku dan Kak Adit selalu beda.
Coba Mama jawab kenapa uang saku yang diterima ku lebih sedikit dari
pada yang diterima Kak Adit?”
“Ya karena kakakmu sudah SMA dan kamu masih SMP, tentu kebutuhanmu berbeda dengannya”.
“Nah apakah itu yang dinamakan adil?”
Sungguh aku sangat kesal. Dalam keadaan aku ngambek saja Mama masih
membela Kak Adit. Nanti saat aku SMA memang aku akan mendapatkan seperti
Kak Adit, tapi Kak Adit akan mendapatkan lebih dari yang aku dapatkan.
Dan Mama pasti akan bilang Kak Adit mempunyai kebutuhan yang lebih
banyak dibandingkan aku karena dia sudah menjadi mahasiswa. Tetap saja
aku dan Kak Adit itu tak akan sama.
Saat ku kecil dahulu, aku masih menggunakan sepeda roda 3 sedangkan Kak
Adit sudah boleh menggunakan sepeda roda 2 yang aku selalu dilarang
untuk menaikinya. Saat aku sudah boleh menggunakan sepeda roda 2 Kak
Adit boleh mengendarai motor. Aku selalu dilarang keras oleh Mama dan
Papa. Sampai kapanpun aku takkan pernah sama dengan Kak Adit.
Mama diam dan menghela nafas panjang. Aku menatapnya sedih.
Sesungguhnya hati kecilku tak ingin melihat Mama seperti ini. Sampai
kapan aku dan Kak Adit begini terus? Yang aku inginkan hanyalah aku dan
Kak Adit itu sama.
“Tak sama itu bukan berarti tak adil,” Mama tersenyum.
“Oh jadi selama ini kamu selalu ngajak berantem Kakak karena kamu
cemburu?” kata Kak Adit yang sedari tadi mendengarkan percakapanku dari
balik pintu.
“Apaan sih Kak? Siapa juga yang cemburu,” kataku ngeles.
“Eh loe pikir gue gak denger percakapanmu sama Mama?” kata Kak Adit.
“Sudah, sudah. Kalian itu gak ada bosennya bertengkar terus,” Mama menengahi.
“Maaf Ma,” kataku dan Kak Adit secara tidak langsung bersamaan.
“Tuh secara spontan kalian bisa kompak,” ledek Mama.
“Upss… nyesel deh.” Kak Adit monyong dan langsung menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.
“Mama ingin menjelaskan sesuatu tentang masalah adil, supaya tidak akan
ada yang salah paham lagi, oke. Terutama kamu Andi,” ucap mama sambil
menunjuk hidung Andi.
Tak ada satu pun dari kami yang menjawab. Sepi, hening, tak ada suara.
Hanya terdapat dua pasang tatapan penasaran yang merespon perkataan Mama
tadi. Ya seharusnya Kak Adit tidak perlu penasaran. Dia kan sudah
dewasa. Pasti dia sudah mengerti makna adil secara utuh. Berbeda dengan
aku yang baru menginjak masa remaja.
Mama mulai menjelaskan kepada kami. Kami memperhatikan dengan
seksama. Mungkin kurang dari sepuluh menit Mama menjelaskan tentang
adil. Dan kini aku mengerti makna adil yang sesungguhnya. Yang namanya
adil itu bukan hanya dilihat dari jumlahnya. Contohnya pada uang sakuku
pasti berbeda dengan Kak Adit, itu karena kebutuhan kami berbeda. Jadi,
kesimpulannya adil adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Akhirnya sejak malam itu aku dan Kak Adit lebih akrab. Memang sih
rumah terasa lebih sepi. Tak ada lagi pertengkaran yang terjadi. Tak ada
lagi kicauan-kicauan tidak penting yang terdengar di rumah ini. Kini
aku sadar ternyata kecemburuan dapat merusak persaudaraan. Dan dengan
kekompakan semua akan terasa lebih indah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar